Hijau Army Tua Cocok Dengan Warna Apa

Hijau Army Tua Cocok Dengan Warna Apa

Sekelompok pesawat nirawak dipamerkan lega programa “Naval Unmanned Aerial Vehicle Air Demo” masa 2005.

Pesawat nirawak
(bahasa Inggris:


unmanned
aerial
vehicle


atau disingkat
UAV
atau cinta disebut bagaikan

drone

[1]), adalah sebuah mesin terbang yang berfungsi dengan kendali jarak jauh oleh pilot atau fertil mengendalikan dirinya sendiri nan dioperasikan oleh operator, menggunakan syariat aerodinamika untuk menyanggang dirinya, bisa digunakan juga dan berharta membawa pikulan baik senjata maupun muatan lainnya. Penggunaan terbesar mulai sejak pesawat nirawak ini adalah di satah militer, tetapi juga digunakan di bidang geografi, fotografi, dan videografi yang dilakukan secara bebas dan membengang. Di bidang geografi, pesawat nirawak digunakan sebagai salah suatu wahana pengindraan jauh yang sangat penting dalam pembuatan denah, seperti atlas pemakaian lahan, peta daerah hitam rayuan, dan peta wilayah perputaran sungai. Sebuah Rudal walaupun n kepunyaan kesamaan, doang tunak dianggap berlainan dengan pesawat nirawak karena peluru kendali tidak dapat digunakan juga dan rudal adalah senjata itu koteng.

Deskripsi

[sunting
|
sunting sendang]

Pesawat nirawak memliki bentuk, dimensi, konfigurasi dan karakter yang bervariasi. Sejarah pesawat nirawak yakni Drona target, pesawat nirawak yang digunakan ibarat sasaran tembak. Jalan kontrol otomatis membentuk pesawat sasaran tembak yang keteter kaya berubah menjadi pesawat nirawak yang obsesi dan runyam.

Kontrol pesawat nirawak ada dua variasi terdepan, variasi pertama adalah dikontrol melintasi pengendali jarak jauh dan variasi kedua merupakan pesawat nan mangut secara mandiri bersendikan program yang dimasukan kedalam pesawat sebelum terbang.

Saat ini, pesawat nirawak mewah melakukan misi pengintaian dan invasi. Walaupun banyak laporan mengatakan bahwa banyak terjangan pesawat nirawak yang berhasil tetapi pesawat nirawak mempunyai reputasi bakal mencaci secara jebah atau menyerang alamat yang pelecok.

Pesawat nirawak juga semakin banyak digunakan cak bagi kebutuhan sipil (non militer) sebagaimana hobi fotografi, hobi videografi, pemadam kebakaran, keamanan non militer atau pengawasan jalur pemipaan. Selain laksana kamera terbang, pesawat nirawak pun majuh melakukan tugas nan dianggap terlalu kotor dan terlalu berbahaya bakal pesawat beranda.

Detik ini pesawat nirawak (PTTA) telah diproduksi maka itu industri dalam kawasan antara lain: PT. Dirgantara Indonesia, PT. UAV Indo, PT. Globalindo Tekhnologi Service Indonesia, PT. RAI (Robo Aero Indonesia), PT. Pilot dan PT. Carita. Adapun PTTA hasil produk dalam negeri tersebut saat ini digunakan untuk keefektifan olahraga kedirgantaraan dan beberapa industi masih mengadakan peluasan PTTA untuk manfaat sasaran latihan Arhanud. Dengan adanya kemampuan berbagai rupa industri dalam negeri internal melebarkan PTTA tersebut, yakni potensi dan kebolehjadian nan bisa dimanfaatkan bikin melebarkan PTTA yang memiliki kemampuan sebagai pesawat pengintai/pemantau bahan/objek dari udara. Peluasan PTTA tersebut dilakukan dengan melengkapi sebuah pemotret dan kesudahannya secara langsung bisa diamati pada layar monitor di darat.

Pengembangan

[sunting
|
sunting sumur]

N domestik sebuah perancangan pesawat nirawak (PTTA), terlebih dahulu harus mendefinisikan misi penerbangan seperti apa nan akan dilakukan makanya pesawat tersebut. Situasi ini harus dilakukan karena tidak ada satu jenis PTTA yang bisa mengamalkan semua misi yang terserah n domestik penerbangan. pesawat nirawak dimaksudkan buat mengemban misi pemantauan mega buat menyibuk objek yang diam atau bergerak di atas permukaan tanah. Misi tersebut dilakukan diwilayah dengan dukungan prasarana nan minim seperti daerah jenggala, gunung-gemunung, rawa dan lain-lain. Dengan misi tersebut, maka PTTA harus yakni gabungan karakter antara jenis pesawat sport, trainer dan pesawat trainer glider, adalah berkecepatan rendah, lalu stabil, boleh melayang dan mudah dikendalikan. Agar dapat melakukan pemantauan dengan saksama maka PTTA harus memiliki panjang terbang 200 m, kecepatan buncah 60 km/jam dan lama berpendar 60 menit.

Hendaknya dapat dimobilisasi/demobilisasi dengan mudah maka pesawat tersebut harus praktis, portable dan agar dioperasikan secara “take off hand launched” maka bobot berpokok pesawat harus ringan agar dapat diluncurkan dengan menggunakan tangan, sehingga berat pesawat harus lebih kecil dari 6 kg. Sementara itu, sreg bagian Airframe/Fuselage PTTA terdapat berbagai ragam instrument, untuk itu wajib lift yang samudra dari pesawat, kerjakan memperoleh elevator yang segara maka sayap harus luas, menggunakan wing aerofoil Un simetris dengan letak letak sayap berada diatas airframe dan menggunakan engine power nan tidak terlalu ki akbar. Disamping radas yang terdapat dalam pesawat, PTTA dilengkapi video camera system dengan karakteristik bak berikut:

  • Resolusi: minimum sama dengan resolusi TV yaitu 420 lajur
  • Musykil: tidak bertambah dari 500 gr
  • Volume: lain lebih bermula 350 cm3
  • Telemetry:
    Line of Sight
    (LOS) dengan frekuensi yang aman

Sistem kekangan

[sunting
|
sunting mata air]

Tahap manual

[sunting
|
sunting sendang]

Pada tahap ini take off dan landing peran pilot (operator) mutlak diperlukan untuk menguasai PTTA menjejak izzah dan kecepatan operasi nan diinginkan serta untuk mengantisipasi keadaan pengendalian yang di luar dugaan. Plong tahap ini pilot memperalat Remote Control Transmitter (R/C Tx) untuk menyelesaikan PTTA. Kerumahtanggaan pengujian menunggangi R/C Tx, penerbang dapat dengan efektif menuntaskan PTTA setakat puas jarak 1 km dengan kondisi aki yang baik.

Kemudian setelah melalui serangkaian uji terbang, maka dilakukan beberapa pertukaran pada bagan tadinya. Perubahan tersebut adalah: panjang pesawat menjadi 1050 mm, panjang sayap menjadi 1800 mm dan permukaan kendali aileron kidal dihilangkan. Pergantian-transisi ini dilakukan untuk: meninggi kecepatan jelajah PTTA, mendapatkan kestabilan static yang bertambah baik serta meminimalisir bagian insinyur yang kritis di pesawat agar aman saat terjadi benturan momen mendarat.

Tahap autopilot

[sunting
|
sunting sumber]

Detik PTTA sudah lalu bakir pada izzah operasi dan kederasan terbang yang diinginkan maka pilot mengaktifkan sistem cais autopilot.

Sistem ini membentangi: Wing leveler untuk menjaga pesawat tetap datar/level, Airspeed hold untuk menjaga kecepatan pesawat seharusnya loyal pada satu skor kecepatan yang telah diprogram dan Altitude hold untuk menjaga keagungan gelisah pesawat agar tetap pada satu ketinggian nan telah diprogramkan. Plong pengujian autopilot sistem diperoleh hasil yang adv amat baik, terindikasi dengan performa terbang (ketinggian, kecepatan dan kestabilan galau) yang baik. Pesawat ini dapat terbang dengan lintasan lurus dan mendatar.

Sistem navigasi

[sunting
|
sunting sumber]

PTTA memiliki system navigasi yang berbasis GPS. Pada uji penerbangan waypoint following (mengikuti titik-titik koordinat nan telah ditentukan) system navigasi ini dapat bekerja dengan baik. Navigasi berbasis GPS secara efektif memandu pesawat melakukan penerbangan PTTA melewati titik-titik koordinat yang telah diprogram dibantu dengan system autopilot. PTTA memiliki fungsi utama laksana pengakap. Dengan demikian penempatan kamera video ibarat mata berasal pesawat ini menjadi terdahulu. Cak semau beberapa kejadian terdepan nan dipertimbangkan n domestik penempatan kamera, antara lain mempunyai sudut pandang yang terbabang, menjadi perlengkapan Sokong pengendalian bagi pilot dan ditempatkan pada dudukan yang kokoh.

Pendayagunaan pesawat nirawak

[sunting
|
sunting sendang]

Pemanfaatan pesawat nirawak yang telah menunjukkan hasil menjanjikan di luar negeri biasanya jauh dari konsumen, di lokasi kerja, atau kawasan relatif terpencil yang biasanya menggunakan pesawat berawak.

Baca :   Warna Jilbab Untuk Baju Pink Salem

Perusahaan tambang memakai kodak definisi tinggi yang terbambang pada badan pesawat nirawak untuk menciptakan peta tambang tiga ukuran yang penting dalam kalkulasi volume material nan sudah digarap. Kejadian tersebut memungkinkan banyak perusahaan kerjakan menyamakan runding produksi. “Bertambah cepat, makin mudah, dan lebih efisien” daripada ahli survei insan atau pesawat beranda, ujar Thomas Lerch, pengguna pesawat nirawak untuk keefektifan pengukuran tambang kerikil dan tempat pembuangan sampah akhir di Swiss.

Contoh pesawat nirawak

[sunting
|
sunting sumber]

Beragam upaya dilakukan bikin meminimalisir kecelakaan dan jatuhnya bahan semangat. Teknologi pesawat nirawak ialah salah satu terobosan bikin mengurangi jatuhnya korban nyawa manusia dalam tugas-tugas di mega. Berikut ini ada beberapa jenis pesawat nirawak yang pada umumnya di pakai:

RQ-8A Fire Scout

[sunting
|
sunting sumber]

FIRESCOUT-VUAS.jpg

Helikopter nirawak ini diadopsi mulai sejak jenis helikopter ringan Schweizer Model 330SP. RQ-8A Fire Scout digunakan oleh U.S. Navy internal misi penyuluhan. Helikopter ini dapat beroperasi selama empat jam lebih dengan jarak 120 mil berpunca siasat kendali. Fire Scout dilengkapi dengan sistem navigasi berbasis GPS dan mampu beroperasi secara otonom. Karena kaya beroperasi secara otonom, pusat kendali boleh mengendalikan tiga helikopter tak berawak ini secara sedarun. Sea Scout, kembangan dari helikopter tak bertuan ini, bahkan mampu mengangkut peluru kendali udara-darat (air-to-surface missiles) untuk misi pengeboman.

RQ-2B Pioneer

[sunting
|
sunting mata air]

RQ-2 Pioneer touches down on the runway 1.JPEG

Pesawat nirawak ini ialah hasil kolaborasi antara AAI Amerika dan Israel Aircraft Industries. Pesawat ini telah dipergunakan oleh U.S. Marine Corps, U.S. Navy dan U.S. Army sejak 1986. Pioneer bertugas melakukan penyuluhan, sensor, penguberan korban, dan mendukung penembakan angkatan laut baik puas siang hari alias malam musim. Pesawat ini dapat diluncurkan semenjak kapal dengan bantuan dorongan peluru berpandu alias diluncurkan berbunga darat dengan bantuan jepretan. Dengan panjang badan 14 kaki dan rentang sayap 17 tungkai, Pioneer boleh terbang hingga ketinggian 15,000 kaki selama panca jam. Pioneer dapat mengangkut beban hingga 37 Kg dan dapat dilengkapi dengan sensor optic alias infrared dan alat pendeteksi ranjau.

Boeing Scan Eagle

[sunting
|
sunting sumur]

ScanEagle UAV catapult launcher 2005-04-16.jpg

Pesawat berbobot 20 Kg ini boleh ganar selama 15 jam dengan jalal lebih dari 16,000 kaki dan kederasan 60 mil per jam. Pesawat ini dapat diluncurkan baik mulai sejak darat maupun dari kapal laut. Scan Eagle yakni pesawat nirawak yang enggak dapat dideteksi oleh radar, selin itu suaranya pula hampir tak terdengar. Scan Eagle terbang dengan dipandu sistem GPS dan dilengkapi dengan kamera dan sensor infra-red.

Northrop Grumman Global Hawk

[sunting
|
sunting sumber]

RQ-4 Global Hawk.jpg

Universal Hawk merupakan pesawat nirawak yang terbesar dan tercanggih di dunia saat ini. RQ-4 Menyeluruh Hawk adalah pesawat nirawak purwa yang memperoleh sertifikasi dari FAA (badan penerbangan Amerika) bagi sano dan mendarat di bandara sipil secara otomatis. Karena keunggulannya ini, Global Hawak diharapkan dapat menjadi peneroka pesawat penumpang dengan pilot otomatis dimasa mendatang. Bilamana pengujian, Mondial Hawk mampu terbang dari Amerika Serikat menuju Australia pulang meninggalkan dengan membawa sejulah instrumen pengintai. Untuk keperluan militer, pesawat ini dapat dipergunakan bagi melakukan pengintaian, penapisan dan survey intelejen puas kawasan yang luas dan dalam paser waktu nan lama. Northrop Grumman Universal Hawk

General Atomics MQ-9 Reaper

[sunting
|
sunting sumber]

MQ-9 Reaper CBP.jpg

Reaper merupakan pesawat multi fungsi nirawak nan dikembangkan bakal menjadi mesin pembasmi. N domestik operasi militer Amerika di Afghanistan dan Irak, MQ-9 dilengkapi dengan rudal AGM-114 Hellfire dan dipergunakan buat memburu dan menenggelamkan alamat. Pesawat ini bisa mengangkut beban sampai lima ton, berkecapatan 230 mil per jam pada ketinggian 50,000 tungkai dan dapat galau selama 3,682 mil. Pesawat ini dilengkapi dengan IR targeting sensor, laser rangefinder dan synthetic aperture radar. MQ-9 bisa dibongkar pasang dan diangkut ke berbagai lokasi dengan mudah.

AeroVironment Raven dan Raven B

[sunting
|
sunting sumber]

RQ-11 Raven 1.jpg

RQ-11A Raven, yang dibuat pada tahun 2002-2003, adalah versi kecil dari 1999-vintage AeroVironment Pointer, yang dilengkapi dengan GPS navigation system, dan peralatan control. Tubuh pesawat ini terbuat bermula Kevlar dan berbobot, dua Kilogram. Pesawat nirawak ini memiliki radius persuasi lebih dari 6 mil dan dapat nanar selama 80 menit sreg kelajuan 60 mil per jam. Raven B dilengkapi dengan beragam jenis sensor dan laser sasaran designator. AeroVironment Raven dan Raven B: RQ-11A Raven

Bombardier CL-327

[sunting
|
sunting sumber]

Karena bentuknya yang unik, pesawat nirawak ini gegares disebut sebagai kacang rusuh. Bombardier CL-327 VTOL adalah pesawat supervisor nirawak nan dimotori mesin Williams International WTS-125 turboshaft engine berenergi 100 tenaga kuda. Dengan bobot maksimum 300 Kg detik takeoff, CL-327 dapat difungsikan sebagai perangkat relay komunikasi, menginspeksi keadaan lingkungan dan mengerjakan patroli di distrik marginal. Pesawat ini mutakadim banyak kontributif aparat dalam upaya pemberantasan narkotika dan dalam operasi-operasi penyuluhan militer. Pesawat ini boleh mengudara selama lime jam dan dilengkapi dengan berbagai sensor, datalink systems dan sistem navigasi baik berupa GPS maupun inertial navigation systems.

Yamaha RMAX

[sunting
|
sunting sumber]

Pesawat ini ialah pesawat gugup nirawak yang paling banyak dipergunakan di manjapada untuk keperluan non militer. Helikopter mini Yamaha RMAX, boleh dipergunakan untuk berbagai keperluan misalnya kerjakan menyemprotkan racun hama dan rabuk, dan melakukan survey buat keperluan pendalaman. Helikopter ini mempergunakan mesin YAMAHA dua langkah dan dapat terbang setakat ketinggian 500 kaki.

Lockheed Martin Desert Hawk

[sunting
|
sunting sumber]

USAF Desert Hawk prepare.jpg

Desert Hawk start diproduksi pada tahun 2002, buat menyempurnakan kebutuhan militer Amerika dalam misi-misi pengawasan di Irak. Desert Hawk digerakkan dengan mesin elektrik dan dilengkapi dengan GPS. Pesawat ini dapat terbang hingga ketinggian 1000 suku dan beroperasi secara otonom dengan panduan GPS. Pesawat nirawak ini bisa terbang dengan kelajuan 57 mil per jam internal spektrum sapta mil.

General Atomics MQ-1 Predator

[sunting
|
sunting sumber]

Predator and Hellfire.jpg

Pemangsa yang subur mamang dengan kecepatan 135 mil tiap-tiap jam ini adalah pesawat peronda nirawak yang dilengkapi dengan persenjataan tempur. Predator mampu terbang setakat mahamulia 25,000 kaki dan menuntut ganti rugi jarak 450 mil. Predator dilengkapi dengan dua rudal AGM-114 Hellfire berpemandu laser. Pesawat ini merupakan pesawat mamang nirawak purwa yang dapat menghancurkan terget-terget di darat. Predator pertama kali dipergunakan internal gerakan militer Amerika di Afghanistan.

Puna

[sunting
|
sunting sumber]

Badan Penelitian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan Kapal udara Nir Raga (PUNA) untuk berjenis-jenis keperluan pemantauan semenjak mega, seperti pemetaan, pemantauan kebakaran rimba, mitigasi bencana, pencarian korban hingga keperluan militer.

Baca :   Voer Yang Cocok Untuk Cucak Ijo

Prinsipnya PUNA mampu membawa gugup berbagai peralatan sebagaimana kamera, radas pengintai dan sejenisnya hingga seberat 20 kg,” prolog Deputi Kepala BPPT bidang Teknologi Industri Rancang Ingat dan Rekayasa, Surjatin Wirjadidjaja di Jakarta, Senin.

Mengenai harga pesawat nir awak dengan pesawat sejenis bikinan negara lain, ia menyebutkan, sekeliling ratusan juta rupiah. Nilai tersebut bertambah tergantung dari peralatan yang dibawanya.

Kegiatan pengembangan PUNA diawali dengan pembuatan ki alat objek tembak ataupun bulan-bulanan dron yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan tamtama Pusenart (Anak kunci Senjata Artileri) TNI-AD. PUNA dirancang punya kecepatan jelajah 80 knot dengan jangkauan lopak-lapik mencapai 30 km di keluhuran sekeliling 7.000 kaki.

Puna Sriti

[sunting
|
sunting sumber]

Selain UAV LSU 02 Lapan, Indonesia lagi mengembangkan UAV Sengangkar sintetis BPPT. UAV Sriti telah unjuk kebolehan dihadapan para siswa Sekolah Staf dan Komando Tentara Darat /SESKOAD di Subang-Jawa Barat 2 Mei 2013. Sebelum dibawa ke siswa Seskoad, UAV Sengangkar melakukan uji coba menggunakan engine baru, copot 25 April 2013 di Batujajar-Jawa Barat. Pengujian ini untuk memahami kehandalan sistem propulsi dan kesesuaian mencapai terbang mandiri. N domestik rangkaian pengujian tersebut juga dilakukan uji kehandalan sistem transmisi data mulai sejak UAV ke Ground Control Station (GCS). Manuver pusing Sriti terpantau dari hasil pengangkutan dokumentasi data parameter gugup, foto dan video nan secara real time dikirim Ground Control.

UAV Sriti dioperasikan bagi pengintaian terbang berdurasi 2 jam dengan jangkauan radius 75 km. Kelebihan Sriti yaitu, enggak memerlukan pematang kerjakan take off dan hanya menggunakan peluncur serta boleh mendarat menggunakan net. UAV Sriti dioperasikan maka dari itu satu regu tamtama (10 manusia) untuk memasang, menarik peluncur, monitoring GCS, bongkar pasang pukat dan pilot. Sistem ini setuju dipakai TNI AD dan bisa dimobilisasi dengan mudah ke berbagai tempat.

Meski UAV Sriti masih dalam proporsi pengkhususan, SESKOAD berkeyakinan dimasa mendatang TNI AD membutuhkan banyak UAV kamil Burung layang-layang untuk melakukan sensor teritorial di wilayah perbatasan bahkan akan ditempatkan disetiap KOREM. UAV Sriti juga dipersiapkan untuk misi pemantauan (surveillance & recognition) pergerakan penyerangan dan pertahanan pasukan militer.

Pesawat ini berwarna zakiah. Sriti adalah wahana udara nirawak jarak dekat dengan konfigurasi desain playing wing menggunakan catapult (pelontar) umpama sarana take off dan ambai sebagai sarana landing.

“Sengangkar untuk surveillance. Karena bisa take off dengan peluncuran dan landing di seser maka bisa dipakai kerjakan melengkapi Legiun Laut pada peralatan di KRI. Sriti ini dapat melihat ke depan sejauh 60-75 km. Bintang sartan dapat dikatakan sebagai mata KRI,” papar Chief Engineer BPPT, Muhamad Dahsyat di lokasi.

Yang kedua, imbuh Dahsyat, cak bagi menunaikan janji kebutuhan pengamanan lokal area seperti bandara. Bisa pun dipakai untuk tindakan SAR di ardi-jabal, jadi lebih efektif.

Spesifikasi pesawat:

  • Uluran sayap: 2.988 mm
  • Berat tinggal landas maksimum (MTOW/Maximum Take Off Weight): 8,5 kg
  • Kecepatan jelajah: 30 knot (56 km/jam)
  • Daya jelajah: 1 jam
  • Skop: 5 mil laut (9,26 km)
  • Ketinggian: 3.000 kaki (915 m)
  • Pelontar: 4.500 mm
  • Tipe pelontar:
    catapult bungee chords

Puna Alap-alap

[sunting
|
sunting sumber]

Pesawat ini bermotif loreng dengan warna yunior tua renta dan bau kencur muda bala. Alap-alap adalah alat angkut udara nirawak jarak menengah dengan konfigurasi desain V-tail terbalik dan batang ekor ganda (double boom) memperalat landasan keras andai sarana pembebasan landas.

Alap-alap didesain bakal jelajah jauh, tetapi semata-mata bakal kebutuhan pengamatan (surveillance) saja.

Spesifikasi pesawat:

  • Rentang sayap: 3.510 mm
  • Pelik ampunan landas maksimum: 18 kg
  • Kederasan jelajah: 55 knot (102 km/jam)
  • Ki akal jelajah: 5 jam
  • Jangkauan: 140 km
  • Ketinggian: 7.000 kaki (2.100 m)
  • Muatan: kamera video dengan penyeimbang (gimbal)

Puna Gagak

[sunting
|
sunting sumber]

Pesawat ini bermotif loreng dengan warna oranye dan putih.

Gagak adalah sarana udara nirawak jarak jauh dengan konfigurasi desain V-tail,
low wing
dan
low boom, menggunakan landasan keras sebagai sarana izin landas dan mendarat.

Puna Dendang ini sama dengan Pelatuk tetapi farik misi, yaitu cak bagi misi adv minim-hierarki-rendah. Puna Gagak dapat digunakan lakukan kebutuhan Legiun Laut.

Spesifikasi pesawat:

  • Juluran sayap: 6.916 mm
  • Berat lepas landas maksimum: 120 kg
  • Kederasan jelajah: 52 – 69 knot (96 – 128 km/jam)
  • Daya jelajah: 4 jam
  • Jangkauan: 73 km
  • Ketinggian: 8.000 tungkai (2.400 m)
  • Muatan: pemotret video dengan penyeimbang (gimbal)

Puna Candit

[sunting
|
sunting sendang]

Pesawat ini bermotif lorek dengan warna putih, abu-abu dan kuning gading.

Pelatuk adalah alat angkut mega nirawak jarak jauh dengan konfigurasi desain V-tail terjungkir,
high wing
dan
high boom, menggunakan pematang keras untuk pemaafan landas dan mendarat.

Sama seperti Puna Gaok, misi Puna Candit bersifat kurang-tinggi-terbatas.

Spesifikasi pesawat:

  • Uluran sayap: 6.916 mm
  • Sulit absolusi landas maksimum: 120 kg
  • Kecepatan jelajah: 52 – 69 knot (96 – 128 km/jam)
  • Daya jelajah: 4 jam
  • Jangkauan: 73 km
  • Ketinggiah: 8.000 kaki (2.400 m)
  • Tanggung: kamera video dengan penyeimbang (gimbal)

Puna Wulung

[sunting
|
sunting sumber]

Selain memiliki Burung layang-layang, BPPT kembali mengembangkan UAV Wulung dengan format yang bertambah raksasa berpangkal Sriti dan membutuhkan landasan cak bagi take off. Kontrak produksi UAV Wulung dengan BPPT telah dilakukan tanggal 29 April 2013. BPPT menyatakan kesiapannya bikin memproduksi pesawat nirawak tersebut bekerjasama dengan PT Dirgantara Indonesia (DI) andai penggubah produksi. PT LEN ikut bekerjasama dalam melebarkan UAV yang kian modern.

Puna Wulung punya spesifikasi berat zero maksimal 60 kg, berat muatan 25 kg, kelajuan jelajah 55 knot, bentang sayap 6,34 meter, ketegaran kalut catur jam dan ketinggian terbang 12.000 suku di atas meres persil. Pesawat tersebut dilengkapi kamera pengintai nan dihubungkan dengan pusat pengendali di darat.

Detik ini tim UAV Wulung terus mengembangkan pesawat tersebut.

’’Pesawat ini sekarang masih memiliki kemampuan 3,5 gravitasi. Kami sedang kembangkan kiranya mempunyai kemampuan 7 gravitasi sehingga mampu menahan pikulan ratusan kilogram,’’ ucap Ketua Program UAV BPPT, Joko Purnomo.

Umumnya, pesawat militer lain berawak milik negara maju sudah produktif di level tiga. Level tertinggi alias level empat yang fertil dicapai saat ini adalah kemampuan jelajah di atas 70 mili suku.

Wulung akan memenuhi kebutuhan skuadron Supadio TNI AU, Pontianak. Dengan adanya UAV, fungsi pengawasan oleh kapal dan pesawat bertuan TNI AU bisa lebih efisien. UAV bisa menggantikan biaya tinggi akibat pengawasan di wilayah tepian.

Selain lakukan keperluan militer, UAV Indonesia lagi digunakan bikin sensor transportasi, SAR, penggalian atmosfer, pengawasan kebencanaan, kargo operasi hujan abu sintetis, penyebaran benih, pengamatan vegetasi daerah peka yang terik, penjepretan film dan lain sebagainya.

Pesawat ini bermotif lurik baru tosca dan serbuk-tepung.

Wulung ini semenjana. Kliyengan bisa mencapai waktu 6 jam. Dan muatannya sepan hingga bisa dipakai untuk membentuk hujan bikinan maupun penyebaran benih.

Spesifikasi pesawat:

  • Panjang: 4.320 mm
  • Tahapan: 1.320 mm
  • Uluran sayap: 6.360 mm
  • Langka lepas landas maksimum: 120 kg
  • Kepantasan jelajah: 60 knot (111 km/jam)
  • Kiat jelajah: 6 jam
  • Skop: 120 km
Baca :   Baju Hijau Army Kerudung Warna Apa

LSU 02

[sunting
|
sunting sumber]

Lembaga Penerbangan Dan Antariksa Nasional /LAPAN akhirnya berhasil menggondol pesawat nirawak ataupun Unmanned Aerial Vehicle (UAV) LSU 02 sejauh 200 kilometer dengan perian tempuh dua jam, pergi dan pulang ke lapangan udara Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. UAV dengan bahan bakar Pertamax Plus (RON 95) ini terbang secara autonomous dan berhasil kembali mendarat dengan mulus di pelan udara Pameungpek, Garut.

“UAV ini bisa terbang lalu jauh hingga 5 jam. Lima liter pakai Pertamax Plus oktan 95. Kalau panik 1 jam 0,9 liter,” tutur Kepala Bidang Avionic LAPAN Ari Sugeng di program Harteknas di Auditorium BPPT Jakarta.

LSU 02 berbobot 15 kg, dilengkapi 2 tustel foto dan kamera video. Pesawat ini mampu bingung dengan keagungan 3000 meter. Lapan masa ini medium menyiagakan generasi mentah UAV nan mampu terbang hingga ketinggian 7200 meter, dengan payload dan endurance yang lebih besar. Kerumahtanggaan artian, Lapan terus meningkatkan jangkauan kalut (long distance), kemampuan terbang (long endurance), kemampuan lopak-lapik secara automatis (autonomous flying), dan kemampuan take off dan landing.

Pesawat nirawak LSU 02 besutan LAPAN ini sebelumnya mutakadim tanggulang rekor dari Museum Rekor Indonesia alias yang dekat disebut dengan MURI cak bagi kategori pesawat UAV atau nirawak yang mampu menempuh jarak terbang terjauh, merupakan selama 200 km.

LSU 02 imitasi LAPAN ini mampu mengangkut kewajiban dengan susah maksimal hingga 3 kg dengan kecepatan terbang hingga 100 km/jam. Pesawat nirawak seperti LSU 02 ini sangat bermanfaat untuk memantau wilayah yang rumit dijangkau manusia ataupun wilayah yang berbahaya, misal memotret kawah ardi berapi atau memantau kawasan bencana.

Pesawat nirawak LSU 02 besutan LAPAN ini punya panjang sayap hingga 2400mm dan panjang jasmani pesawat 1700mm. Seperti layaknya pesawat UAV lainnya, pesawat LSU 02 ini memiliki kemampuan kerjakan kliyengan secara otomatis yang dikandalikan semenjak jauh atau diprogram untuk memfokus target tertentu.

Seperti yang dilansir pecah Kompas (22/08/2013), era modern seperti sekarang ini keberadaan pesawat nirawak sebagaimana LSU 02 dahulu berfaedah. Tidak sahaja digunakan untuk memantau wilayah nan rumpil dijangkau atau berbahaya, pesawat nirawak dapat dimanfaatkan maka itu militer bikin misi pengintaian di kawasan musuh.

LSU 02 adalah Pesawat Minus Awak yang Mampu Bimbang secara Autonomous. Kinerja berpendar pesawat nirawak yang cerbak menjadi matra yaitu kemampuan lingkup nanar (long distance), kemampuan lama terbang (long endurance), kemampuan khawatir secara automatis (autonomous flying), dan kemampuan take off dan landing. Kemampuan tersebut sekali lagi menyangkut aspek inovasi aircraft (desain pesawat udara), propulsi, avionik, dan aerodinamika

Pesawat LSU 02 yakni hasil penelitian dan pengembangan Pusat Teknologi Penerbangan Lapan. Pesawat UAV nan sudah melakukan berbagai misi ini rani terbang secara autonomous dengan jangkauan berpendar sampai 300 kilometer

Perincisan LSU 02

[sunting
|
sunting sumber]

  • Jenjang badan: ± 2.000 mm
  • Rentang sayap: 2.500 mm
  • Daya mesin: 10 PK/ 3,5 ltr
  • Daya jelajah: 5 jam
  • Jangkauan maksimum: 450 km
  • Komunikasi telemetri: 900 MHz dengan sendi 1 watt
  • Sistem kendali: Sistem otomatis (autonomous flying system)
  • Beban: 3 kg

Alat angkut antariksa nirawak

[sunting
|
sunting sumber]

Pesawat antariksa ini legal diproduksi dan diterbangkan. Karena tidak membawa manusia di dalamnya, pesawat ini kian bebas bergerak dan memiliki keistimewaan yang lebih variatif. Kerumahtanggaan bahasa Inggris, pesawat sebagaimana ini disebut
unmanned spaceplane. Sebagian wahana antariksa nirawak difungsikan sebagai satelit bentangan langit, sama dengan Sputnik 1. Beberapa model wahana antariksa nirawak merupakan Explorer 1, Project SCORE, SOHO, berbagai tipe Sputnik, Syncom, X-37, dan sebagainya.

Karena dirancang untuk terbang nirawak, pesawat luar angkasa ini tidak n kepunyaan sistem pengendali sambil. Kampanye dan pengendalian pesawat ini dilakukan dengan jarak jauh dari bumi. Jadi para ahli memonitor pesawat yang sedang terbang melalui serangkaian peralatan suporter di marcapada.

Tatap juga

[sunting
|
sunting sumur]

  • Aerobot
  • Panen energi
  • Daftar pesawat nirawak
  • Metaplane
  • Kendaraan peledak mikro
  • Miniatur UAV
  • Regulasi UAV
  • Missile Technology Control Regime
  • Nano Hummingbird
  • Pesawat radio yuridiksi
  • Autonomous aerobatic
  • Ekonomi Baluwarti
  • Daftar pesawat nirawak
  • Federasi Drone Indonesia
Sejarah
  • Kettering Bug
Fasilitas, unit dan program
  • 82d Aerial Targets Squadron
  • Kejuaraan Robotika Aerial Dunia semesta
  • Akomodasi Buar Air Force, ParcAberporth
  • Fasilitas U.S Air Force, UAV Battlelab
Variasi kendaraan nirawak lainnya
  • Pesawat tempur nirawak atau Unmanned Combat Air Vehicle
  • Wahana darat nirawak
  • Wahana antariksa nirawak
Intelijen
  • Tata pengumpulan intelijen
  • Intelligence, Surveillance, Target Acquisition and Reconnaissance
  • Intelijen pengukuran dan penandaan

Teks

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^


    “Lema lema dron”. Sosi Bahasa Departemen Pendidikan Kebangsaan Republik Indonesia.
    Glosarium
    . Diakses rontok
    30 Juli
    2020
    .




  • Wagner, William.
    Lightning Bugs and other Reconnaissance Drones; The can-do story of Ryan’s unmanned spy planes.
    1982, Armed Forces Journal International, in cooperation with Aero Publishers, Inc.
  • Carafano, J., & Gudgel, A. (2007). The Pentagon’s robots: Arming the future [Electronic version]. Backgrounder 2093, 1-6.
  • Singer, P. (2009a). Military robots and the laws of war [Electronic version]. The New Atlantis: A Journal of Technology and Society, 23, 25-45.
  • Singer, P. (2009b). Wired for war: The robotics revolution and conflict in the 21st century. New York: Penguin Group.
  • Defense Update reports about UAV employment in Persistent Surveillance Diarsipkan 2009-06-19 di Wayback Machine.
  • VTOL UAVs Diarsipkan 2008-10-17 di Wayback Machine.
  • History of WWI-era UAVs Diarsipkan 2011-07-16 di Wayback Machine. – Remote Piloted Aerial Vehicles: The ‘Aerial Korban’ and ‘Aerial Torpedo’ in the USA
  • “Human Pilots: Who Needs ‘Em?” — Wired News, 23 November 2003
  • “Drone aircraft may prowl U.S. skies”- c|kisa News, 29 Mar 2006
  • Inside the Rise of the Warbots – Interview with Brookings Institution senior fellow Peter W. Singer about his book Wired for War
  • Drones in Domestic Surveillance Operations: Fourth Amendment Implications and Legislative Responses Congressional Research Service, September 6, 2012.
  • Commercial Drones: A Dogfight at the FAA; The aviation agency prepares for a deluge of unmanned aircraft in U.S. skies, February 9, 2012
  • Integration of Civil Unmanned Aircraft Systems (UAS) in the National Airspace System Roadmap
  • Unmanned Systems Technology, Directory of UAV technical components
  • UVS International Non Profit Organization representing manufacturers of unmanned vehicle systems (UVS), subsystems and critical components for UVS and associated equipment, as well as companies supplying services with or for UVS, research organizations and academia.
  • http://www.cloudcaptech.com/piccolo_system.shtm Diarsipkan 2014-06-01 di Wayback Machine.
  • http://www.cloudcaptech.com/solutions/military_uav_reconnaissance.shtm Diarsipkan 2014-07-13 di Wayback Machine.
  • http://www.unmannedsystemstechnology.com/2013/03/piccolo-nano-uav-autopilot-introduced-for-small-uavs/
  • http://www.youtube.com/ Piccolo Autopilot – Autonomous Runway Takeoff & Landing
  • http://diydrones.com/profiles/blogs/another-3axis-digital
  • http://spectrum.ieee.org/consumer-electronics/gadgets/stmicroelectronics-makes-3axis-digital-gyroscope-with-one-pengawasan
  • http://www.dprg.org/projects/2003-01a/ Diarsipkan 2014-10-16 di Wayback Machine.
  • https://www.sparkfun.com/products/10937
  • http://www.geeetech.com/blog/2012/03/triple-%E2%80%93axis-gyroscope-breakout-and-triple-axis-magnetometer-breakout/
  • http://www.ictradenet.com/Category/Sensors,Transducers/Index226.htm Diarsipkan 2013-05-29 di Wayback Machine.
  • http://uk.farnell.com/sensonor-technologies-as/83203/ic-sensor-gyro-sar10-16soic/dp/1845321
  • http://www.digikey.com/en/articles/techzone/2012/jul/using-integrated-sensors-to-simultaneously-detect-multiple-parameters
  • http://www.hobbyking.com/hobbyking/store/__26859__Arduino_Triple_Axis_Digital_Output_Gyro_Sensor_ITG_3205_Module.html
  • https://learn.sparkfun.com/tutorials/gyroscope/how-a-gyro-works
  • http://www.eeweb.com/news/micro-sized-3-axis-gyroscope/ Diarsipkan 2013-01-23 di Wayback Machine.
  • http://uk.farnell.com/invensense/mpu-6000/ic-gyro-accel-9-axis-fusion-24qfn/dp/1862383



Hijau Army Tua Cocok Dengan Warna Apa

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Pesawat_nirawak

Check Also

Ucapan Wedding Dalam Bahasa Inggris

forumbolt.com – Ucapan Wedding Dalam Bahasa Inggris Bola.com, Jakarta – Pernikahan dianggap sebagai masa di …