Cara Bikin Mata Sipit

Cara Bikin Mata Sipit

Cerita Mambang –
Halo semuanya, selamat datang di ceritaihsan.com. Kali ini saya akan mendendangkan tema tentang cerita hantu. Kisah-kisah seram nan akan membuatmu merinding dan bertanya-soal, apa benar hantu itu ada. Saran buat kalian, jangan baca ini pada malam hari, karena semua yang terpampang di sini bermula sebuah cerita nyata, mana tahu juga bisa menggentayangi kalian ..

Biar tambah berkah, jangan lupa baca basmallah dahulu sebelum membaca..
Bismillahirromanirrohim.. 🙂

Daftar isi

  • 1
    Cerita Riil dari Cerita Mambang

    • 1.1
      Narasi Mambang Misteri
    • 1.2
      Narasi Mambang Ngeri
    • 1.3
      Share this:

Narasi Nyata bersumber Kisahan Hantu

Saya ingatkan sekali lagi, jangan baca kisahan Hantu nyata ini plong malam hari.

Cerita Hantu Misteri

pexels.com

Kisah Mambang Gayung

Pada malam tahun di pondok putri Al-Ishlah Bondowoso Ada seorang anak kuntum hendak ingin berak, tapatnya jam sembilan malam. Waktu itu sebetulnya semua momongan mutakadim beranjak tidur, tapi karena paksaan biologis, maka anak amoi tersebut pun menekatkan diri cak bagi pergi sendirian ke kamar mandi.

Biasanya jam sudah larut sebagai halnya itu, murit lain dapat keluar, apalagi sorangan. Kadang lagi bopong anak lain bagaikan lawan biar gak sorangan saat keluar asrama. Tapi sekali juga, paksaan dari dalam tubuh lah yang membuat dia nekat dan tidak pandang kondisi.

Jam 9.00 itu waktu yang sudah cukup lilin batik, suntuk malahan. Karena di tempat itu, di daerah teratak tersebut adalah kancah di mana jauh semenjak pemukim, sepan jauh. Wilayah seputar adalah sebuah sawah yang di tanami oleh pohon-tanaman rindang.

Tak suka-suka lampu kronologi atau alat angkut yang melintas. Di teratak tersebut, suasana benar-benar gelap gulita dan lampau jarang juga ada kendaraan yang melintas. Mau kemana orang lain takdirnya melalui kronologi ini, kecuali bila dia mau mampir di pondok tersebut.

Perempuan itu sekali lagi minus berlari terbilit-bilit karena saking kebeletnya.

Jika kamar mandi itu ada di privat mes, kali akan lebih melajukan dia untuk pergi, tapi ini bukan. Dia harus keluar pecah tumpangan sendirian dan melangkaui tanah lapang yang gelap lakukan pergi ke kamar mandi tersebut.

Sira melangkahi lapangan tersebut berasal pinggir. Barangkali sebetulnya lain sesak jauh, tapi sudah patut untuk membuat bulu kuduk merinding. Lampu busur yang tercatat semata-mata terserah di depan kamar mes dan di depan kamar bersiram yang hendak ia tuju.

Anda menuju bola lampu yang hanya tertumbuk pandangan di depannya tersebut.

Ada dua kamar bersiram yang berselingkit di saung itu. Dua kamar mandi tersebut menghadap paksina, lalu suka-suka sedikit tempat kecil di depannya yang konvensional digunakan buat mencuci baju para santri.

Masuklah perempun itu di kamar mandi sebelah timur.

Internal kamar mandi itu terpadat tembok yang menyekatantara suatu kamar mandi ke kamar bersiram satunya sekali lagi. Lewat di perdua tembok yang mewatasi dua kamar bersiram tersebut terdapat lubang yang tidak plus besar, dan juga tidak terlalu kecil. Sepan untuk memindahkan sebuah benda berupa, sabun cuci, peralatan mandi dan sebagainya.

Sebelum masuk kamar mandi, perempuan itu mendapati suka-suka seseorang yang bersiram di perdua malam mencemkam itu, di kamar mandi sebelahnya, barat.

Cewek itu lagi lain peduli. Sira berbarengan masuk dan buang hajat. Terniat dibenaknya, siapa ya yang mandi lilin batik-malam begini. Tapi perempuan itu konsisten fokus dengan apa nan dia lakukan saat itu.

Bulu jitok kuntum itu mulai takut satu sebabat tidak.

Jeeburr.. Jeburr.. Jeburr..

Kritik air basyar mandi itu tidak wajar, sepertinya ia kepingin buru-buru menyelesaikan mandinya. Sira mandi dengan cepat sekali, entah berapa timba sudah nan dia habiskan.

Periode terus bepergian, selama perempuan itu berdiam menyelesaikan hajatnya, selama itu juga makhluk nan mandi tersebut mandi dengan tinggal cepat-cepat.

Rasa takut mulai menyelimutinya.

Saat hendak cebok, perawan itu mengambil sabun dan mematamatai bak air yang ada di sana. Di dapati ternyata, beliau tidak ingat kalau sendok air yang biasa untuk mencoket air itu tidak cak semau.

Bagaimana caranya cebok sekiranya gayungnya tidak terserah?

Akhirnya dengan memberanikan diri, perempuan itu dengan musik sebiasa siapa bikin meminjam sendok air mulai sejak kamar mandi sebelah. Berkatalah perempuan tersebut,

“Baraaatt… Baraaattt… Pinjem gayungnya dong …”

Seketika itu, orang yang mandi disebelahnya serempak nongkrong total. Tidak ada lagi suara cipratan air yang terdengar di sana.

Lalu suka-suka suara pria yang gentur, tahapan lagi menggelegar menjawap permintaan dari perempuan tersebut ..

.

.

.

“JANGANKAN Sendok air, KEPALA AJA NGGAK N kepunyaan ..”

Seketika itu perawan itu berlari keluar dari kamar mandi dan pergi ke membidik pondokan sedarun menjerit keheranan.

Sesampai di penginapan, semua anak yang cak semau di pondok dayang itu pulang ingatan dan terkaget menemui salah satu temannya yang terponggok menangis ketakutan. Para santri tersebut juga kaget karena temannya belum menyarungkan lancingan. Di dekaplah perempuan tersebut dengan rasa gugup lampau ditanyai kenapa. Tapi nona tersebut masih tunak menagis tergeru-geru.

-Tamat-

Cerita ini saya dapatkan berpunca bandingan saya yang embak perempuanya sendiri yang mengalami kisah ini saat berapa di pondok tersebut sangat cukup masih dibangku SMA.

Bagaimana menurut kalian, apa mambang gayung tersebut moralistis-moralistis terserah? masih beranikah kalian pergi ke kamar bersiram lilin batik hari? ha.. haa..

Baca sekali lagi : 21+ Himpunan Cerita Lucu Dewasa Menggelikan dan Bikin Ngakak | Kisahan Pendek, Humor, Bahasa Jawa

Narasi Mambang Redup

pexels.com

Hantu Kepala Menggelinding

Banyak orang mengatakan bahwa Ma’had Al-Ishlah Bondowoso yaitu pondok yang munjung dengan makhluk lumat. Transendental nyata seperti nan dialami maka itu temanku sendiri nan suntuk wasilah berlatih podok tersebut.

Abdan namanya.

Awal kisah berawal mulai sejak tugas bimbing lilin lebah. Momen itu Abdan dan beberapa temannya diberi tugas asuh pondok pada malam masa. Ada nan di depan tempat masuk pondok, suka-suka nan di birit.

Di ki depan, terserah Abdan bersama dua turunan temannya yang madya didik dengan duduk di resbang. Mengawasi-tatap jalanan yang sudah ranah seraya mengobrol.

Di seberang kronologi ada tanah lapang luas yang biasa dibuat main bola oleh santri. Lalu di kidal jalan yang tak terlalu jauh, terwalak pasar nan resmi anak santri beli jajan maupun kebutuhan daya.

Jam menuntukkan 12, tibalah lilin lebah hari yang gelap pekat. Pada malam itu 3 momongan yang jaga di depan, salah suatu berpunca mereka tidur. Abdan berada di sisi kanan, kutub satunya tidur, nah teman yang lain meninggalkan masuk bimbing di fragmen pinggul.

Alasannya melilit, dan ingin buang air. Jadinya salah satu teman nan ada di penggalan depan disuruh untuk ikut melek di fragmen belakang.

Saat itu lagi Abdan jengkel ketika ditinggal sendirian, yang satunya tidur, yang satunya pun pergi. Jadi Abdan seoranglah yang masih sadar dan menjaga sekitar.

Temannya pun tak kunjung datang. Lalu basyar yang tidur tadi bangun dan bilang kalau dia memilin ingin ke WC.

Saat itu lagi Abdan langsung menjemput temannya yang lama tidak kembali tersebut. Dihampirinya di bagian pantat dan menyuruh untuk pun ke depan.

“Eh, balik. Di depan gak suka-suka yang jaga.” kata Abdan.

Ada sekitar catur orang di sana saat abdan menjalari. Sepertinya temannya tadi yang izin sudah sekali lagi lagi.

Kembalilah Abdan dan satu manusia temannya di sisi bagian depan pondok untuk melek.

Abdan merasa kesal karena tadi temannya telah meninggalkannya n domestik waktu yang layak lama. Hasilnya Abdan ingin tekor mengasih latihan atas perbuatannya tadi, biar dia tau rasanya jaga sendirian lilin lebah-lilin batik.

Seketika itu Abdan pura-pura tidur.

Abdan tak tidur sungguhan, dia melirik temannya berkedap-kejap kepingin melihat bagaimana reaksi temannya, sembari bersabda n domestik hati, “rasain tuh didik sendirian. Emang enak!!”

Sejenak hening, tapi kadang kembali Abdan jaring-jaring-pura mengorok biar terlihat tidur betulan.

Setelah beberapa menit, Abdan memperhatikan dia dengan mata sipit, berhasrat sira tak mengetahui kalau Abdan tetapi bohongbohongan tidur. Namu, melihat temannya yang memandang ke depan pelan dengan pandangan kosong, menciptakan menjadikan Abdan kian mengupas dia dengan serius.

Tiba tiba raut muka temannya yang diterangi dengan lampu kronologi seadang itu, mengkerut. Suntuk tangannya medekap menutupi wajahnya dan duduk keluar dari katil yang ada di sana seraya bani adam ketakjuban.

Abdan spontan berdiri bangung mulai sejak tidur pura-puranya mendekati teman yang ada di sampingnya itu.

“heh, kau tak apa-apa?” kata Abdan serta merta menyambut pundaknya.

Namun ternyata, tangisan mengaum-geru terdengar semenjak roman nan ditutupinya.

Abdan pun langsung terkinjat, meluluk temannya seperti itu. Seharusnya pasti terserah yang menggoda temannya. Gak barangkali tiba-tiba engkau menangis tanpa sebab apapun.

Di sela-sadel itu, antiwirawan satunya nan dari WC datang.

“ini kenapa kok sampe gini Daann..”

Suara temannya taksir mengeras saat memanggil Abdan. Momen itu Abdan tak mendengarkan panggilan bersumber temannya, dia sibuk berada di cak lari perkembangan dengan berteriak-teriak di depan rumah nihil tua.

Ada apartemen hampa tua tak berpenghuni di seberang kronologi sebelum menuju ke tengah lapangan. Pindu dan jendela tumah itu bukan suka-suka, jadi barang siapa bisa ikut. Abdan berapa tepat di depan pintu masuk rumah dengan berteriak-teriak bermegah jagoan.

“Woy SETAANN!! Kalo berani keluar loe.. Jangan godain temen gue.. Keluar loe,.. Sumber akar SETAN PENGECUT!!”

Puas dengan tindakan heroiknya, Abdan juga plong temannya. Beliau masih sekadar mengerudungi mukanya dan menangis deras. Keduanya berusaha untuk menanyakan apa yang terjadi plong dirinya, kenapa setakat sebegitunya, semata-mata dia setia tetapi tidak cak hendak membukanya.

Penasaran dengan temannya nan cengeng banget, Abdan mendedahkan dengan paksa mukanya. Ditariknya tangan yang menghampari itu dengan persisten. Namun temannya cukup abadi dan setara sekali tidak mau mengekspos wajahnya.

Dia pun dibujuk kerjakan menyingkir ke kerumahtanggaan pondok, pergi ke zawiat semoga boleh mendamaikan diri di sana. Doang kalau dia ketakutan terus-terusan seperti ini, bagaimana dia jalannya.

Jadinya dengan paksa dia pegang tangannya kuat-kuat, dan membuka tangan yang menutupi wajahnya. Saat di urai, wajah padanan tersebut penuh dengan air mata berbaur ingus di mana-mana.

Temannya kaget, “Sebegininya ya dia ketakutan”.

Lalu keduanya menggandeng temannya untuk pergi ke kerumahtanggaan masjid.

Saat perkembangan sekali lagi anda masih bukan ingin membuka matanya, membuat dia kebentok papan lampu yang cak semau di sana.

Pasca- itu anda di giring ke dalam surau. Di sana juga dia masih menangis dengan derasnya. Keduanya berusaha menenagkannya, tetapi tidak bisa. sira tidak cak hendak menjawab sama sekali. Dia saja terus-terus sekadar menangis.

Akhirnya tidak cak semau jalan enggak nan boleh dilakukan oleh kedua n antipoda tersebut, kecuali menyapa ustadz gubuk.

Datanglah ustadz tersebut plong malam hari itu dengan sedikit khawatir. Di tenangin dengan mengapit pundaknya dengan cacat memeluk.

“kenapa ada apa?”

Cuma tunak saja sebanding, Anak itu terus cuma menangis bukan membenakan ustadznya. Silam ustadz tersebut menyuruh bakal tidur namun. Kedua temannya pula disuruh kerjakan menemani anak asuh tersebut sihingga ia dapat tidur.

Pagi hari datang.

Ceritalah anak itu kepada temannya kenapa ia sampai menangis dengan silam dan tidak mau melepas tangan, apalagi kuak matanya.

“Bilamana itu aku teko ajar lilin lebah setimbang Abdan, terimalah.. Abdannya tidur, aku jaga terkoteng-koteng di sana”

Abdan nan mendengarkan kalimat tersebut terasa gak nikmat sendiri, karena anda hanya pura-kantung tidur.

“Padalah saat itu juga ada tiga orang yang pun kejar-kejaran dari pasar. Mereka menuju lapangan dan main lari-larian, yang dua manusia berkaki kuda dengan ekor tataran mencari seorang temannya yang pula n kepunyaan kaki kuda yang lebih aneh dengan jasad manusia. Dia seolah-olah lari kekaguman karena temannya nan mengejar itu membawa celurit.”

Suasana ruangan itu berangkat invalid mencekam.

“Tinggal entah kenapa, mereka menuju ku. Aku tidak bisa bergerak, aku melihat mereka masih mengejar satu setinggi tidak tiba-tiba, ada ratusan orang yang mirip seperti mana mereka menunaikan janji lapangan dan jalanan tepat di depan mataku.”

Anak asuh itu menjajarkan nafas, lewat dilanjutnya,

“Dan anak yang di kejar itu tertangkap lalu dibuat rebutan dengan sentak menyentak tangannya seperti raja rimba kelaparan. Sampai-sampai majikan anak itu terputus dan menggelinding ke arahku, terus . . .

.

.

WHAAA!!

“Kepala itu mendelik dan menjulurkan lidahnya. Saat itu juga aku bukan ingin melihatnya lagi.”

Anak-anak yang ada di sana langsung ketakutan mendengar cerita tersebut, ditambah lagi momongan itu memeragakan dengan persis seperti apa yang anda lihat.

“Nah pas itu Abdan ketel teriak-teriak di flat kosong itu, entah kenapa padahal aku sudah tutup netra, tapi aku masih boleh melihat jikalau di sana itu masih banyak manusia-orang aneh itu, malahan mengelilingi si Abdan”

Abdan seketika itu refleks merinding.

“Tau gitu sekali lagi gak bagak aku mah. Haha..” pembukaan abdan sinkron tertawa.

Plong ketika itu suasana menjadi kalis kembali. Dari danau terserah pelajaran yang dapat diambil, bahwa kita harus selalu berdoa privat setiap kondisi, justru seperti cerita di atas. Menunangi pertolongan sebaiknya cangap dilindungi berbunga kejahatan musuh nan nampak, ataupun enggak nampak.

-Tamat-

Tatap rangka dibawah ini selama 1 menit, dan lihat barang apa yang akan terjadi

Check Also

Ucapan Wedding Dalam Bahasa Inggris

forumbolt.com – Ucapan Wedding Dalam Bahasa Inggris Bola.com, Jakarta – Pernikahan dianggap sebagai masa di …